Sabtu, 02 September 2017

Puisi, untukmu

Kamu
(Novi Lili Utami, 02 September 2017)

Halo pria berdagu indah
Halo pria senja tiba
Halo pria es
Halo pria api
Selamat sore pria tak berbau namun begitu harum
Sudikah kiranya kau dengar??
Betapa perkataan ini terlalu basi
Hingga aku bahkan tak ingin berkata lagi
Hingga aku rindu namun tak ingin berjumpa
Hingga aku hanya tertunduk 
Hingga aku hanya mampu menatap tanganmu
Aku tak mau tenggelam lagi ke dalam samudera matamu yang pekat namun jernih
Aku ingin sekali 
Ingin sekali
Semuanya menjadi jelas
Lalu, jika senja tiba
Ketika kita duduk dengan jarak
Semoga semua menjadi jelas
Meski bibir enggan berucap
Mungkin dengan mata ia berkata
Benar, terlalu banyak yang ingin ku kata
Namun, hanya mata yang kata

Rabu, 23 Maret 2016

Untuk Bintang Bag. 2


Bintang Terdekat




“Gadis itu untuk sekian kalinya harus bersembunyi. Melihat bintang yang semakin jauh dari angannya”

            Aku tak tau kapan perasaan ini datang. Kita bertemu, saling tegur, saling tertawa, bahkan kita pun berbagi duka. Apakah hanyalah aku yang merasakan hadirnya perasaan mendalam ini? Mampukah kita lebih dari keluarga kecil? Mampukah kau menganggapku lebih dari mereka?
          Aku bahkan tak tau kenapa bintang begitu berkilau. Aku hanyalah bumi yang sangat senang hanya dengan melihat kilaumu. Namun, perasaan seperti sesuatu menusuk jantung begitu dalam begitu sering terjadi. Bagaikan gerhana, kau tau? Bumi tiba-tiba menjadi gelap. Oh sayang, sinarmu terhalangi bulan yang nampak begitu cantik. Aku tahu, ini semua hanyalah terjadi dalam hitungan menit. Tapi, apakah kau tahu? Semua ini begitu menyakitkan bagiku.
          Bintang, bulan, bumi, aku harus bilang apa? Apa? Aku tak akan konyol, aku tak akan mampu dekat dengan bintang. Kau tahu? Aku cukup tahu bahwa bintang dan bumi tak akan berdekatan. Aku cukup tahu semua ini akan hancur jika kita bersama.
          Entahlah, bagaimana bisa kau menarik perhatianku begitu besar. Gaya tarikmu begitu menarik perhatianku. Entahlah seperti apakah diriku ini yang selalu berputar-putar pada dirimu. Semua ini begitu kontras dengan yang terjadi pada dirimu. Adakah aku yang berputar-putar di pikiranmu?
          Hallo bintang, aku tak perlu dekat denganmu bila hangatmu mampu memberi kenyamanan jiwau. Aku juga akan selalu tersenyum karena energi yang kau berikan. Bintang, tetaplah menjadi kebahagiaanku. Wahai bintang terdekatku, MATAHARI.
           
                     

Selasa, 01 Maret 2016

Secuil foto PLS X MIA 3 SMADA


PLS  X MIA 3
            Kemarin aku udah cerita tentang perjalananku bersama teman-teman waktu PLS, juga memberi sedikit informasi mengenai PT. SRITEX dan Sangiran. Kali ini aku mau membagikan sedikit foto-foto anak ORRO CREW waktu PLS. Lets check this out!!!
Ini Lili nampang


ada anak MIA 5 jugak



pardon my face



jika kalian menemukan sesuatu berarti kamu hebat


ok fine, foto kelompok yang FAIL



Foto anak kagol


vampir ala-ala

Go go vampir ala-ala


hidungku mancung :D


entah, ini apa

ini duo jomblo akut
 

Minggu, 28 Februari 2016

Laporan Perjalanan


Pembelajaran Luar Sekolah
(Oleh Novi Lili Utami X MIA 3)
Selasa, 16 Februari 2016
            Hari ini mungkin akan menjadi hari yang tidak terlupakan bagi siswa kelas X SMAN 2 Magelang. Hal ini disebabkan kami akan melakukan pembelajaran di luar sekolah. Bis yang diharapkan sudah berangkat pukul 07.00 WIB dari sekolah mengalami keterlambatan 30 menit. Sehingga, pukul 07.30 WIB bis baru berangkat dari sekolah. Direncanakan bahwa tempat yang akan kami kunjungi yaitu PT Sritex dan Sangiran.
            Tujuan pertama kami yaitu PT Sritex yang berada di Sukohardjo. PT Sritex merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang tekstil dimana produknya telah dipakai oleh tentara lebih dari 50 negara. Akhirnya kami tiba di area pabrik yang sangat luas. Dikarenakan keterlambatan kami, kami tidak sempat masuk ke aula untuk diberi pembekalan mengenai PT Sritex. Hal ini membuat kami langsung memasuki salah satu bagian pabrik. Kami melihat-lihat proses penjahitan, penyortiran, dan pengepakan yang ada di dalam pabrik. Setelah itu, kami mengunjungi gallery PT Sritex. Disana, kami membeli beberapa barang yang diual dengan harga yang sangat terjangkau.
            Setelah puas mengelilingi PT Sritex, kami melanjutkan perjalanan kami menuju situs purbakala Sangiran. Sesampainya kami disana, kami disambut dengan patung manusia purba yang besar. Sangiran sendiri terletak di bagian utara Kota Solo tepatnya di desa krikilan, kec. Kalijambe, Kab.Sragen. Situs Sangiran memunyai luas sekitar 59, 2 km² . Situs ini terdaftar  dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di situs Sangiran ini juga telah ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus oleh Von Koenigswald.
            Museum Sangiran memiliki tiga ruang utama. Ruang pertama berisi diorama yang memberikan informasi mengenai manusia purba dan hewan yang ada di situs Sangiran sekitar 1 juta tahun yang lalu. Ruang kedua, menyajikan banyak bahan rinci tentang berbagai fosil yang ditemukan di Sangiran dan tentang sejarah eksplorasi. Ruang ketiga, berisi diorama besar yang memberikan pandangan seluruh wilayah keseluruhan Sangiran, dengan gunung berapi seperti Gunung Lawu di latar belakang dan manusia dan hewan di latar depan, seperti yang dibayangkan sekitar 1 juta tahun yang lalu. Bagian palin menarik di ruang ketiga yaitu karya pematung paleontologis internasional Elisabeth Daynes.
            Setelah mendapat banyak ilmu di Sangiran kami melanjutkan perjalanan kami ke Solo Town Square. Disana kami sibuk jalan-jalan mencari makanan dan barang. Setelah pus berbelanja, kami melanjutkan perjalan kami ke Taman Sari untuk istirahat, makan, dan sholat. Seusai itu, kami menuju perjalanan ke sekolah. Akhirnya kami tiba di sekolah pukul 11.00 WIB.


Sabtu, 27 Februari 2016

Cerpen Sepucuk Surat


Sepucuk Surat
(Oleh Novi Lili Utami X MIA 3)
      Wanita itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Mata wanita itu memandangi gurat tulisan pada surat berwarna merah jambu.  Dear My Love, wanita itu tak henti-hentinya menangis ketika membacanya.
          Elbi bangkit dari tempat ia duduk setelah mendengar bunyi dari ponselnya. Ternyata, Zura menelfonnya. Zura mengajaknya untu pergi ke perpus kota. Ia pun sesegera mungkin menuju perpus dan bertemu Zura.
“Hai, Elbi!” Ujar Zura.
“Oh Zura, maaf aku telat,” kata Elbi.
 “Kau mau membaca apa?”
“Emmm, kita lihat saja dulu yuk!” Ajak Zura.
Deg, jantung Elbi berdetak begitu kuat. Laki-laki itu, begitu mirip dengan bocah yang ada di fotonya. Elbi mengingatnya, Ren pergi dengan begitu saja.
“Tak mungkin, tak mungkin dia,” ekspresi muka Elbi begitu sedih.
“Elbi?”
“Dia, Ren sudah pergi dari dulu. Dia kembali?” Ujar Elbi lirih.
“Kau berkata apa Bi?” Tanya Zura heran.
Elbi hanya senyum sembari duduk di pojok perpus dengan matanya fokus kepada buku yang sedang ia baca. Setelah itu, Zura mengikutinya duduk. Mata Elbi lelah membaca, dia mencari-cari sosok laki-laki yang mirip dengan Ren tadi. Namun sayang, orang yang dicarinya telah pergi entah kemana.
Elbi dan Zura berjalan keluar menuju rumah makan terdekat. Mereka duduk sembari makan. Untuk mencari dompet yang terselip, Elbi mengeluarkan beberapa barang-barangnya. Kemudian, untuk menikmati suasana sore hari, mereka berjalan menyusuri trotoar.
“Bi, ak duluan ya,  bye,” kata Zura.
“Oke”
Elbi melanjutkan perjalanannya menuju rumah, yang memang dekat dengan perpustakaan kota. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak Elbi, sontak ia pun  menoleh. Matanya membelak bak bulan purnama, bibirnya membeku entah mau berkata apa. Yang Elbi tau, kini benar-benar ada yang mampu menghentikan waktunya.
“Permisi, apakah....” Kata-kata Remy tiba-tiba terhenti, matanya bertemu pandang dengan Elbi seolah-olah mereka pernah bertemu.
“Kau Elbi?”
“Ren? Kau kembali?” Tanpa ia sadari, air matanya menetes begitu saja.
“Aku bukan Ren,” tatapan Remy begitu sendu.
“Ba...ba..bagai..mana bisa kamu...” Kata-kata Elbi begitu tersendat-sendat, matanya masih begitu basah.
Remy tersenyum padanya, duduklah mereka di bangku taman. Mereka masih terdiam. Dalam hati Elbi, perasannya begitu jungkir balik. Dia masih bingung dengan semua keadaan ini.
“Elbi, apakah kau tak apa?”
“Aku tak apa, ceritakanlah.”
“Baiklah,” jawab Remy.
Hingga saat ini, wanita itu masih duduk di sudut kamar, matanya tidak henti-hentinya menangis. Laki-laki yang ditemuinya tadi di taman ternyata Remy, saudara kembarnya Rendy alias Ren. Dua tahun lalu, Ren pergi melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Namun naas, pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Bahkan, jasadnya tidak diketemukan. Hanyalah backpacknya yang dapat ditemukan. Di dalamnya terdapat surat yang berwarna merah jambu.