Sepucuk Surat
(Oleh
Novi Lili Utami X MIA 3)
Wanita itu hanya bisa duduk terpaku di
sudut kamar. Mata wanita itu memandangi gurat tulisan pada surat berwarna merah
jambu. Dear My Love, wanita itu tak henti-hentinya menangis ketika
membacanya.
Elbi bangkit dari tempat ia duduk setelah
mendengar bunyi dari ponselnya. Ternyata, Zura menelfonnya. Zura mengajaknya
untu pergi ke perpus kota. Ia pun sesegera mungkin menuju perpus dan bertemu
Zura.
“Hai,
Elbi!” Ujar Zura.
“Oh
Zura, maaf aku telat,” kata Elbi.
“Kau mau membaca apa?”
“Emmm,
kita lihat saja dulu yuk!” Ajak Zura.
Deg, jantung Elbi berdetak begitu
kuat. Laki-laki itu, begitu mirip dengan bocah yang ada di fotonya. Elbi mengingatnya,
Ren pergi dengan begitu saja.
“Tak
mungkin, tak mungkin dia,” ekspresi muka Elbi begitu sedih.
“Elbi?”
“Dia,
Ren sudah pergi dari dulu. Dia kembali?” Ujar Elbi lirih.
“Kau
berkata apa Bi?” Tanya Zura heran.
Elbi
hanya senyum sembari duduk di pojok perpus dengan matanya fokus kepada buku
yang sedang ia baca. Setelah itu, Zura mengikutinya duduk. Mata Elbi lelah
membaca, dia mencari-cari sosok laki-laki yang mirip dengan Ren tadi. Namun
sayang, orang yang dicarinya telah pergi entah kemana.
Elbi
dan Zura berjalan keluar menuju rumah makan terdekat. Mereka duduk sembari
makan. Untuk mencari dompet yang terselip, Elbi mengeluarkan beberapa
barang-barangnya. Kemudian, untuk menikmati suasana sore hari, mereka berjalan
menyusuri trotoar.
“Bi,
ak duluan ya, bye,” kata Zura.
“Oke”
Elbi
melanjutkan perjalanannya menuju rumah, yang memang dekat dengan perpustakaan
kota. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak Elbi, sontak ia pun menoleh. Matanya membelak bak bulan purnama,
bibirnya membeku entah mau berkata apa. Yang Elbi tau, kini benar-benar ada
yang mampu menghentikan waktunya.
“Permisi,
apakah....” Kata-kata Remy tiba-tiba terhenti, matanya bertemu pandang dengan
Elbi seolah-olah mereka pernah bertemu.
“Kau
Elbi?”
“Ren?
Kau kembali?” Tanpa ia sadari, air matanya menetes begitu saja.
“Aku
bukan Ren,” tatapan Remy begitu sendu.
“Ba...ba..bagai..mana
bisa kamu...” Kata-kata Elbi begitu tersendat-sendat, matanya masih begitu
basah.
Remy
tersenyum padanya, duduklah mereka di bangku taman. Mereka masih terdiam. Dalam
hati Elbi, perasannya begitu jungkir balik. Dia masih bingung dengan semua
keadaan ini.
“Elbi,
apakah kau tak apa?”
“Aku
tak apa, ceritakanlah.”
“Baiklah,”
jawab Remy.
Hingga
saat ini, wanita itu masih duduk di sudut kamar, matanya tidak henti-hentinya
menangis. Laki-laki yang ditemuinya tadi di taman ternyata Remy, saudara
kembarnya Rendy alias Ren. Dua tahun lalu, Ren pergi melanjutkan kuliahnya ke
luar negeri. Namun naas, pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.
Bahkan, jasadnya tidak diketemukan. Hanyalah backpacknya yang dapat ditemukan.
Di dalamnya terdapat surat yang berwarna merah jambu.