Bintang
Terdekat
“Gadis
itu untuk sekian kalinya harus bersembunyi. Melihat bintang yang semakin jauh
dari angannya”
Aku tak tau kapan perasaan ini datang.
Kita bertemu, saling tegur, saling tertawa, bahkan kita pun berbagi duka.
Apakah hanyalah aku yang merasakan hadirnya perasaan mendalam ini? Mampukah
kita lebih dari keluarga kecil? Mampukah kau menganggapku lebih dari mereka?
Aku bahkan tak tau kenapa bintang begitu berkilau. Aku
hanyalah bumi yang sangat senang hanya dengan melihat kilaumu. Namun, perasaan
seperti sesuatu menusuk jantung begitu dalam begitu sering terjadi. Bagaikan
gerhana, kau tau? Bumi tiba-tiba menjadi gelap. Oh sayang, sinarmu terhalangi
bulan yang nampak begitu cantik. Aku tahu, ini semua hanyalah terjadi dalam
hitungan menit. Tapi, apakah kau tahu? Semua ini begitu menyakitkan bagiku.
Bintang, bulan, bumi, aku harus bilang apa? Apa? Aku tak
akan konyol, aku tak akan mampu dekat dengan bintang. Kau tahu? Aku cukup tahu
bahwa bintang dan bumi tak akan berdekatan. Aku cukup tahu semua ini akan
hancur jika kita bersama.
Entahlah, bagaimana bisa kau menarik perhatianku begitu
besar. Gaya tarikmu begitu menarik perhatianku. Entahlah seperti apakah diriku
ini yang selalu berputar-putar pada dirimu. Semua ini begitu kontras dengan
yang terjadi pada dirimu. Adakah aku yang berputar-putar di pikiranmu?
Hallo bintang, aku tak perlu dekat denganmu bila hangatmu
mampu memberi kenyamanan jiwau. Aku juga akan selalu tersenyum karena energi
yang kau berikan. Bintang, tetaplah menjadi kebahagiaanku. Wahai bintang
terdekatku, MATAHARI.






















