Sabtu, 27 Februari 2016

Cerpen Sepucuk Surat


Sepucuk Surat
(Oleh Novi Lili Utami X MIA 3)
      Wanita itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Mata wanita itu memandangi gurat tulisan pada surat berwarna merah jambu.  Dear My Love, wanita itu tak henti-hentinya menangis ketika membacanya.
          Elbi bangkit dari tempat ia duduk setelah mendengar bunyi dari ponselnya. Ternyata, Zura menelfonnya. Zura mengajaknya untu pergi ke perpus kota. Ia pun sesegera mungkin menuju perpus dan bertemu Zura.
“Hai, Elbi!” Ujar Zura.
“Oh Zura, maaf aku telat,” kata Elbi.
 “Kau mau membaca apa?”
“Emmm, kita lihat saja dulu yuk!” Ajak Zura.
Deg, jantung Elbi berdetak begitu kuat. Laki-laki itu, begitu mirip dengan bocah yang ada di fotonya. Elbi mengingatnya, Ren pergi dengan begitu saja.
“Tak mungkin, tak mungkin dia,” ekspresi muka Elbi begitu sedih.
“Elbi?”
“Dia, Ren sudah pergi dari dulu. Dia kembali?” Ujar Elbi lirih.
“Kau berkata apa Bi?” Tanya Zura heran.
Elbi hanya senyum sembari duduk di pojok perpus dengan matanya fokus kepada buku yang sedang ia baca. Setelah itu, Zura mengikutinya duduk. Mata Elbi lelah membaca, dia mencari-cari sosok laki-laki yang mirip dengan Ren tadi. Namun sayang, orang yang dicarinya telah pergi entah kemana.
Elbi dan Zura berjalan keluar menuju rumah makan terdekat. Mereka duduk sembari makan. Untuk mencari dompet yang terselip, Elbi mengeluarkan beberapa barang-barangnya. Kemudian, untuk menikmati suasana sore hari, mereka berjalan menyusuri trotoar.
“Bi, ak duluan ya,  bye,” kata Zura.
“Oke”
Elbi melanjutkan perjalanannya menuju rumah, yang memang dekat dengan perpustakaan kota. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundak Elbi, sontak ia pun  menoleh. Matanya membelak bak bulan purnama, bibirnya membeku entah mau berkata apa. Yang Elbi tau, kini benar-benar ada yang mampu menghentikan waktunya.
“Permisi, apakah....” Kata-kata Remy tiba-tiba terhenti, matanya bertemu pandang dengan Elbi seolah-olah mereka pernah bertemu.
“Kau Elbi?”
“Ren? Kau kembali?” Tanpa ia sadari, air matanya menetes begitu saja.
“Aku bukan Ren,” tatapan Remy begitu sendu.
“Ba...ba..bagai..mana bisa kamu...” Kata-kata Elbi begitu tersendat-sendat, matanya masih begitu basah.
Remy tersenyum padanya, duduklah mereka di bangku taman. Mereka masih terdiam. Dalam hati Elbi, perasannya begitu jungkir balik. Dia masih bingung dengan semua keadaan ini.
“Elbi, apakah kau tak apa?”
“Aku tak apa, ceritakanlah.”
“Baiklah,” jawab Remy.
Hingga saat ini, wanita itu masih duduk di sudut kamar, matanya tidak henti-hentinya menangis. Laki-laki yang ditemuinya tadi di taman ternyata Remy, saudara kembarnya Rendy alias Ren. Dua tahun lalu, Ren pergi melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Namun naas, pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Bahkan, jasadnya tidak diketemukan. Hanyalah backpacknya yang dapat ditemukan. Di dalamnya terdapat surat yang berwarna merah jambu.

1 komentar:

  1. Ini contoh cerpen yang menarik. Pendek, tetapi ada misteri di dalamnya. Anda tidak mudah memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada pembaca. Hal itu baru Anda ungkap di bagian akhir. Saya yakin Anda bisa menulisnya menjadi beberapa halaman lagi. Paling tidak 10 halaman.

    BalasHapus