Rabu, 23 Maret 2016

Untuk Bintang Bag. 2


Bintang Terdekat




“Gadis itu untuk sekian kalinya harus bersembunyi. Melihat bintang yang semakin jauh dari angannya”

            Aku tak tau kapan perasaan ini datang. Kita bertemu, saling tegur, saling tertawa, bahkan kita pun berbagi duka. Apakah hanyalah aku yang merasakan hadirnya perasaan mendalam ini? Mampukah kita lebih dari keluarga kecil? Mampukah kau menganggapku lebih dari mereka?
          Aku bahkan tak tau kenapa bintang begitu berkilau. Aku hanyalah bumi yang sangat senang hanya dengan melihat kilaumu. Namun, perasaan seperti sesuatu menusuk jantung begitu dalam begitu sering terjadi. Bagaikan gerhana, kau tau? Bumi tiba-tiba menjadi gelap. Oh sayang, sinarmu terhalangi bulan yang nampak begitu cantik. Aku tahu, ini semua hanyalah terjadi dalam hitungan menit. Tapi, apakah kau tahu? Semua ini begitu menyakitkan bagiku.
          Bintang, bulan, bumi, aku harus bilang apa? Apa? Aku tak akan konyol, aku tak akan mampu dekat dengan bintang. Kau tahu? Aku cukup tahu bahwa bintang dan bumi tak akan berdekatan. Aku cukup tahu semua ini akan hancur jika kita bersama.
          Entahlah, bagaimana bisa kau menarik perhatianku begitu besar. Gaya tarikmu begitu menarik perhatianku. Entahlah seperti apakah diriku ini yang selalu berputar-putar pada dirimu. Semua ini begitu kontras dengan yang terjadi pada dirimu. Adakah aku yang berputar-putar di pikiranmu?
          Hallo bintang, aku tak perlu dekat denganmu bila hangatmu mampu memberi kenyamanan jiwau. Aku juga akan selalu tersenyum karena energi yang kau berikan. Bintang, tetaplah menjadi kebahagiaanku. Wahai bintang terdekatku, MATAHARI.
           
                     

4 komentar: